Bagi penuntut ilmu selalu ada kemudahan-kemudahan
Bukan bermaksud untuk membeberkan aib yang ada dalam keluargaku, tapi ini adalah kenyataan yang terjadi. Ter-lahir di tengah tengah keluarga yang kurang respon terhadap pentingnya ilmu pengetahuan dan agama, bahkan saudara saudara bapak ku dan saudara sepupu ku menentang ke inginan ibuku untuk menyekolahkan adikku di pondok pesantren.
Meski demikian, akhirnya berbekal niat dan berbekal doa kepada sang pemberi kehidupan ini, alhamdulillah, dua tahun sudah adikku di pesantren. Saya pun telah menyelesaikan perkuliahan di salah satu perguruan tinggi Surabaya. Segala puji bagi Allah yang maha kaya.
Suatu hari hatiku di liputi perasaan, ada rasa iba, ada rasa senang, dan ada rasa bangga. Merasa iba karena saudara saudara tidak peduli, acuh tak acuh, walaupun hanya sekedar untuk meminjamkan uang beberapa waktu saja. Merasa iba karena memang tidak pantas ibu mengantarkan saya dan kedua adik saya ke pulau harapan dan cita-cita. Merasa senang karena mempunyai ibu yang sabar dan tegar dalam menjalani semua ini. Dan yang terakhir saya merasa bangga karena punya adik yang tidak patah semangat, kata-katanya menyejukkan dan murah senyum.
Suatu hari adik saya murung, tidak banyak bicara dengan teman-teman dalam beberapa hari, Mau tau penyebabnya? Karena ibuku sudah lumayan lama tidak datang ke pondok, dan mempunyai tunggakan iuran uang kamar selama empat bulan. Itulah penyebab kenapa adik saya murung. Saya memaklumi dan itu manusiawi sebagai siswi dan santriwati yang serba terbatas.
Beberapa ustadzah dan teman temanku merasa heran, karena tidak biasanya melihat adikku murung. Ketika di tanya mengapa dan apa yang terjadi, jawabannya hanya gelengan kepala. Jawaban yang paling membingungkan bagi setiap orang saya rasa.
Adikku semakin paham bahwa ibuku sudah tidak kuat lagi membiayai pendidikannya di pesantren. Makanya pada suatu kesempatan, adikku sempat bilang ke sahabat sahabatnya bahwa bisa jadi sehabis liburan Ramadhan ia tidak lagi kembali ke pesantren. Ternyata kata-kata itu cukup untuk menusuk sahabatnya dan semakin tau kalau adikku murung karena tidak bia membayar uang iuran.
* Tiada seorang muslim yang tidak di berikan ujian dan cobaan, jika ia mampu melewatinya niscaya ia akan memetik buah kesabaran dan penderitannya, di Dunia dan di Akhirat nanti.
Tiga puluh menit sebelum azan magrib berkumandang, agenda di pesantren adalah bersih-bersih. Tak ketinggalan adikku juga sibuk antre di kamar mandi. sepuluh menit kemudian adikku sudah keluar dari kamar mandi dan menuju kamarnya. setelah menyimpan sabun dan meletakkan handuk, adikku membuka lemari. Haaaah, adikku kaget karena di lemari tergeletak uang selembar lima puluh ribuan. perasaan selama ini dia tidak pegang uang melainkan hanya beberapa lembar uang seribuan, itu pun di dompet. Kemudian adikku bertanya ke beberapa sahabat tentang uang tersebut. Ternyata salah satu dari sahabatnya mengaku kalau dia yang meletakkan uang tersebut sambil berkata "ambil saja untuk kamu dan jangan bilang ke teman-teman yang lain, demi Allah saya Iklhas. itu adalah ezeki ukhti yang lewat tangan saya".
Sahabat yang lainnnya juga memberi beberapa lembar uang puluhan ribuan hingga pembayaran iuran kamar dan lain-lainnya lunas.
Wahai Allah, semakin saya yakin akan janji-Mu bagi orang yang menuntut ilmu akan ada kemudahan kemudahan, walaupun harus di dahului penderitaan dan kesabaran
Suara Hidayatullah
Posting Komentar
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
* Berkomentarlah dengan baik
* Dilarang meninggalkan link dalam komentar
* Terimakasih atas komentarnya